Tampilkan postingan dengan label tempat wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tempat wisata. Tampilkan semua postingan

6 Dosa Para Pendaki Gunung


ADA sebuah anggapan bahwa mendaki gunung itu adalah sebuah tindakan yang keren dan gagah. Ada rasa bangga ketika sudah menginjakan kaki di puncaknya. Namun, sadarkah kita bahwa kita yang mengaku pecinta, ataupun penikmat alam, bisa jadi adalah seorang perusak alam ?. Berikut ini adalah 5 Dosa Para Pendaki Gunung yang harus dihindari :


1. Melakukan Kegiatan Pendakian Massal (Non-Konservatif)
Quote:
Quote:
Mungkin kita sudah tahu tentang sebuah brand perlengkapan outdoor yang melakukan pendakian massal ke gunung Semeru beberapa waktu lalu.

Saya sempat diajak teman karena dalam iklannya pendakian ini dibumbui oleh kata-kata bersih-bersih gunung, tanam pohon, dan konservasi. Kenyataannya? Semeru menjadi tempat sampah dan potensi rusaknya ekosistem makin besar.

Sebelum mengikuti pendakian massal, ada baiknya survey terlebih dahulu. Berapa kapasitas gunung tersebut, berapa jumlah pendaki yang dibolehkan ikut oleh panitia, dan hal yang terkait dengan konservasi lainnya. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab, sob!



2. Andil Besar Mencemari Lingkungan
Quote:
Quote:
Saya pernah naik gunung dengan seorang rekan yang kelihatannya sudah ‘senior’ dalam hal mendaki. Namun, ditengah perjalanan istirahat, saat ia memakan sebuah makanan ringan, dengan ringannya pula ia membuang sampah itu sembarangan.

Itulah potret kebanyakan pendaki yang tidak paham akan konservasi. Apa sulitnya sih membawa sampah di dalam tas?

Di lain waktu, saat saya sedang ingin mengambil air di sebuah mata air, terlihat seorang pendaki yang sedang menikmati ritual B*B di mata air itu! Apa dia tidak berfikir orang akan minum dari sana? Sebegitu sulitkah menggali lubang di tanah? Kucing saja masih bisa lebih pintar!

Banyak juga pendaki-pendaki yang masih saja menggunakan bahan-bahan kimia yang bisa merusak. Jangan heran kalau menemukan bungkus sabun/shampo yang tergeletak dekat di mata air.



3. Bersikap acuh tak acuh dan pasif.
Quote:
Quote:

Menganggap tugas konservasi itu adalah tugasnya penjaga Taman Nasional, porter, dan LSM lingkungan adalah bukan hal yang benar.

Padahal pendaki sendirilah yang punya bagian besar dalam menjaga lingkungan. Banyak oknum pendaki juga tidak mengindahkan kearifan lokal yang telah ditetapkan masyarakat setempat. Tertulis ataupun tidak tertulis.

Seringkali mitos-mitos mistis di gunung itu sebetulnya adalah usaha untuk konservasi dari masyarakat. Jangan sampai bilang begini, ” Saya bukan pecinta alam, kok. Cuma penikmat alam. Jadi bukan tugas saya dong untuk konservasi?”



4. Merusak Keasrian Gunung
Quote:
Quote:
Menikmati sinar matahari saat mendaki gunung memang menyenangkan, karena sebagian orang merasa hal itu tidak buruk untuk dilakukan. Ya, itu memang benar, namun jika anda terlalu lama terpapar sinar matahari, hal ini dapat merugikan juga, terutama saat cuaca benar-benar sedang panas sekali. Pakailah topi saat mendaki gunung, hal ini akan membuat kepala anda tetap dingin dan mengurangi efek dehidrasi akibat terbakar sinar matahari.




5. Tidak Membagikan Pengetahuan Tentang Pendakian Konservatif
Quote:
Quote:
Tak dipungkiri, mendaki gunung sekarang sudah terkesan menjadi sebuah ‘wisata’.

Apalagi banyak pengaruh dari acara televisi, film, blog, forum dan banyak media lainnya. Membagikan semangat mendaki gunung kepada orang-orang baru tanpa dibarengi semangat konservasi hanya akan menjadikan para pendaki tersebut menjadi generasi pendaki yang cenderung antipati terhadap lingkungan dan hanya mementingkan kesenangan semata.

Sebagian dari kita mungkin pernah melakukan hal atas, secara sengaja maupun tidak sengaja. Yang pernah, tolong jangan diulangi lagi dan mari saling mengingatkan kepada rekan pendaki yang lain. Semoga gunung-gunung Indonesia masih bisa dinikmati anak-cucu kita nantinya. Aammiinn!



6. Menjadikan Alam Sebagai Tempat Asusila
Quote:
Quote:
Sudah rahasia umum dalam tempat obyek wisata alam khusunya gunung, dalam kesunyiannya dijadikan kesempatan bagi pemuda pemudi dalam memadu kasih, bahkan sampai berhubungan intim.

ini merupakan fenoma yang sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat sekitar, yang dimana pada masyarakat tertentu meyakini gunung sebagai tempat suci yang dilarang untuk tindakan asusila pada wilayahnya.

Para pendaki pun tidak dapat mencegahnya, karena alasan sama-samapendatang, tetapi dalam kasus tersebut, para penduduk setempat akan memperingatkan apabila ada seseorang yang melakukan tindakan asusila akan diganjar oleh hukum yang diluar nalar manusia , yang membuat pengunjung berpikir 2 kali, oleh karnanya jagalah alam dari sikapmu, bukan karena takut akan hukuman yang menimpamu

Berburu sunset di pantai Kesirat Gunungkidul



Ada yang belum pernah ke pantai kesirat di kecamatan panggang gunungkidul yogjakarta?
masih sepi dan alami...

Pantai ini terletak di desa girikarto, kecamatan panggang kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, akses menuju lokasi pantai yang agak membingungkan, soalnya belum ada petunjuk jalan. suasana pantai masih sepi, belem terlalu banyak di expose media, cocok untuk bersunset ria

Spoiler for jalan menuju kesirat


Spoiler for pantai kesirat


Spoiler for pantai kesirat


Spoiler for ddolaners
Spoiler for alay
Spoiler for alay2

Warung Kopi Tak Pernah Sepi Di Aceh




Tahukah Anda, kalau di Aceh, banyak sekali warung kopi beredar. Hampir di setiap sudut desa hingga perkotaan di Aceh terdapat warung kopi.

Memang sudah menjadi kebiasaan bagi warga di sana menikmati secangkir kopi. Selain menyediakan kopi, warung kopi di Serambi Mekkah juga menyediakan sejumlah fasilitas, seperti wifi dan layar lebar untuk menonton sepakbola.

Pengungjungnya pun beragam, mulai dari mahasiswa, birokrat, petani, pebisnis, hingga anggota dewan suka menghabiskan waktu di kedai kopi. Tak hanya untuk sekadar santai dan menikmati kopi, warung kopi di sana bahkan dijadikan tempat berbisnis, mengadakan rapat, berjumpa klien, dan lain sebagainya.

Sementara itu, bagi yang mahasiswa, warung kopi biasanya dijadikan tempat berdiskusi, membuat tugas, atau hanya sekadar memanfaatkan jaringan internet gratis bermain media sosial sambil ngopi.

Kebiasaaan warga Aceh menyeruput kopi, menjadikan warung kopi sebagai salah satu tempat yang tidak pernah sepi. Kopi-kopi tradisional biasa, hingga kopi modern seperti ekspresso, tersedia di berbagai warung kopi di Aceh.

“Selain menikmati secangkir kopi, di sini kita juga bisa mendapatkan berbagai informasi, bertemu teman-teman dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ringan sambil nyantai,” ujar Darmadi Ridhwan, salah seorang pekerja Lembaga Sosial Masyarakat di Aceh, kepadaVIVAlife, Kamis 8 Januari 2015.

Kata dia, hampir semua warung kopi di Aceh buka 24 jam. Jenis kopi yang paling banyak dinikmati warga Aceh, adalah Ulee Kareng. Kopi ini menjadi salah satu kopi yang sangat dikenal bahkan hingga keluar Aceh.

Kopi ini mulai dikenal tahun 1960, Ulee Kareng menjadi salah satu bubuk kopi lokal yang sangat disukai dan terkenal di Aceh. Bubuk kopi Ulee Kareng, memiliki rasa yang nikmat yang mencirikan cita rasa khas Aceh.

Rasa khas tersebut, yang kemudian menjadi Ulee Kareng menjadi kopi yang dikenal ke mancanegara. Ulee Kareng secara modern dan tradisional. Rasa alami 100 persen kopi asli tersaji di dalamnya. Itu pula yang membuat banyak warung kopi, restoran hingga hotel menyediakan kopi Ulee Kareng.

Quote:Duta Kopi Gayo

Bener Meriah, atau Gayo, dan Takengon adalah salah satu sentral produksi tanaman kopi di Aceh. Di Gayo, juga ada Duta Kopi Gayo yang dipilih dan bertugas untuk mempromosikan kopi daerah tersebut ke masyarakat dan pasar-pasar, baik lokal maupun dunia.

“Duta Kopi Gayo ini diselenggarakan oleh Ikatan Beru Bujang Gayo Bener Meriah. Kegiatannya membantu pemerintah untuk mengenalkan kopi ke orang-orang yang ingin tahu tentang kopi,” ujar Rezka Kenara Bintang Putra, Duta Kopi Gayo 2015.
Kata dia, agar terpilih sebagai duta, para calon duta harus mengajukan sebuah program tentang kopi. Ia sendiri, lanjutnya mengajukan sebuah program ‘Wisata Panen Kopi’ di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Menurut Kenara, selain bisa menikmati wisata panen kopi, kabupaten yang berada di bagian tengah Aceh juga menyuguhkan sejumlah pemandangan asyik. “Kita bisa menikmati keindahan gunung berapi, air panas, dan juga air terjun di Gayo,” kata dia.

Gayo sendiri memproduksikan dua jenis kopi, Arabika dan Robusta. Hampir 80 persen kebun kopi di sana merupakan kebun kopi jenis Arabika. Produksi dari wilayah tengah Aceh tersebut, sudah sangat dikenal di Asia Tenggara, bahkan hingga Amerika, dan Eropa.
“Kopi Arabikanya adalah arabika spesial. Skornya 80 - 90 untuk tes cita rasa. Di Bener Meriah, per gelasnya dijual Rp10 ribu sampai Rp20 ribu. Kalau dalam bentuk bubuk, R 250 ribu,” kata mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian Unsyiah ini.

Sama halnya dengan Kenara, Wanda Ramadhana, Wakil 2 Duta Kopi Gayo 2015, juga mengatakan hal yang sama. Katanya, kopi Gayo saat ini sudah bisa bersaing dengan banyak negara peghasil kopi lain.

“Kopi gayo sudah mampu mendunia. Kopi gayo sudah mampu bersaing dengan kopi-kopi ternikmat dunia, seperti kopi Brasil dan Columbia. Proses perawatanya juga dilakukan dengan sistem organik, sehingga menambah kualitas kopi.”

Untuk Bapak Polisi, dari Kami Rakyat Jelata!

"Bukan kasar, bukan arogan. Hanya untuk kebaikan."

Kepada Bapak Polisi yang terhormat,
Bila Bapak membaca tulisan ini, mohon dimaklumi. Tulisan ini bukan kami maksudkan untuk menjelekkan Bapak ataupun profesi Bapak. Tulisan ini semata karena kami tahu pentingnya pekerjaan Bapak buat memperkokoh negeri ini. Karena kami tahu, negeri ini butuh didukung oleh Bapak.

Kami juga tahu, kami sendiri belum menjadi seorang warga negara yang sempurna. Setiap profesi yang kami jalani, juga distereotipekan, sama seperti profesi Bapak. Tapi coba tengok sebentar Pak, ini adalah pandangan yang beredar di masyarakat soal Bapak, yang membuat hati kami terus merasa miris.

1. Suka cari-cari

Biarpun kami nggak bersalah, selalu ada aja cara untuk menemukan kesalahan kami. Plat nomer nggak jelas, plat nomer bengkok, helm nggak SNI, salah belok, melanggar jalur, nggak nyalain lampu sein, jalan lebih cepet satu detik dari lampu hijau, dan banyak lagi Pak. Tapi Bapak mbok ya tolong jangan hobi ngumpet di belokan yang gelap gitu Pak. Juga tolong jangan adakan razia di jam sibuk Pak.

2. Korup

Misalnya Bapak udah nemu kesalahan kami, seharusnya Bapak ngeluarin surat tilang. Tapi Bapak atau teman-teman Bapak kok malah ngajakin saya damai sih Pak? Itu nggak baik Pak. Dalam hati, saya justru berharap Bapak menolak pemberian kami Pak.


3. Arogan

Terus ya Pak, kalau kami nolak diajak damai, Bapak atau teman-teman malah menggertak kami. Aduh Pak, sungguh... Saat kami terburu-buru meeting dengan klien kami, atau kami ditunggu orang rumah, jangan dipersulit.

4. Malu-malu tapi mau

Karena kadang kami juga kepepet agar urusan segera selesai, saya dan teman-teman akhirnya mengalah. Tapi, saat di dompet kami hanya ada lima puluh ribu, atau dua puluh ribu, mohon diterima seikhlasnya Pak. Kami sebenarnya lebih senang dengan surat tilang.

5. Selalu terlambat

Lalu ada lagi Pak, yang dikeluhkan teman-teman saya. Katanya, saat dibutuhkan di situasi mendesak, polisi di Indonesia datangnya lama. Saya juga heran, sebenarnya apa sih Pak yang membuat Bapak dan teman-teman lama saat otw? Apakah karena jalanan macet? Kasihan korbannya Pak, keburu kehilangan nyawa atau hartanya.

Saya juga heran Pak, saat kami mengadukan perkara, kenapa kesannya hanya dicatat saja tanpa ada tindak lanjut? Saya masih ingat dengan jelas waktu ayah saya dirampok beberapa tahun lalu. Kami mengadu, melaporkan ciri-ciri pelaku. Tapi hingga kini tak ada kejelasan kasus tersebut. Sekalipun, kami nggak pernah menerima kabar dari Kepolisian. Sebenarnya, diproses nggak sih Pak pengaduan kami?

6. Kejam


Entah benar atau tidak ya Pak, tapi dari beberapa bacaan yang pernah kami baca, Bapak kalau sedang menginterogasi kadang pakai kekerasan. Bener nggak sih Pak? Cuma nanya lho Pak ini saya.

7. Penyalahgunaan wewenang

Lalu nih Pak, kabarnya juga sering terjadi penyalahgunaaan wewenang. Biasanya itu untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Saya jadi bingung Pak, sebenernya Bapak dan kawan-kawan ini mafia atau polisi sih Pak? Rada-rada nggak jelas bedanya. Mungkin saya perlu ganti kacamata ya Pak? Yang saya sedihkan, mungkin bukan Bapak yang melakukan hal ini, tapi teman-teman Bapak. Tapi akhirnya, Bapak kena getahnya imagenya jadi ikutan jelek. Sedih kan Pak?

8. Abu-abu

Pak, belakangan masyarakat heboh lho soal konflik KPK dan Polri. Para tukang parkir dan sopir angkot yang biasa ngetem di depan rumah saya ramai-ramai bergosip soal Bapak.
Image polisi yang seharusnya netral menjadi seolah polisi memihak kepada kepentingan politik tertentu.
Stereotipe ini Pak, juga diperkuat dengan adanya banyak kasus yang mereka sebut tidak tuntas diungkapkan kepolisian hingga kini. Contohnya aja kasus Munir dan kasus 1998. Saya nggak bisa komentar mendengarkan percakapan mereka, Pak.

9. Kerjanya Nggak Tepat Sasaran

Kalau yang ini Pak, keluhan dari teman-teman saya. Saat ada kemacetan, bukannya Bapak mengurai kemacetan itu, tapi malah bikin razia. Yang terus terang, mereka juga ragu kalau razia itu berujung pada surat tilang atau uang damai. Sekadar saran sih Pak, mungkin lain kali kalau memang situasinya macet, tolong diuraikan dulu Pak. Anggap saja Bapak kasihan sama planet bumi ini dan anak cucu Bapak di masa depan, Pak. Asap kendaraan yang macet itu penyumbang kerusakan ozon yang terbesar lho Pak. Kan kasihan kalau anak cucu Bapak nanti harus hidup di Bumi yang semakin panas.

10. Pekerja keras


Pak, semoga Bapak masih belum marah membaca sampai di sini. Buat saya Pak, meskipun di semua daerah selalu ada oknum yang tidak menyenangkan tapi selalu ada juga figur polisi yang Baik. Saya paling salut sama Pak Polisi yang rela berpanas-panas pakai masker untuk mengatur kemacetan. Bagian forensik dan investigasi juga pasti lebih menuntut dedikasi yang lebih karena tidak semua orang sanggup mengerjakan tugas yang sehari-hari ditemui kedua divisi itu. Salut saya Pak!

11. Serius dan Disiplin

Pak.. Masih nggak marah kan? Senyum dong!
Kalau Bapak nggak senyum, wajar dong kalau saya nulis stereotipe serius dan disiplin? Itu hal baik kan Pak? Atau karena Bapak nggak bisa diajak bercanda sih Pak?
Tapi saya punya teman yang juga berkarir di Kepolisian. Aslinya anaknya gokil Pak, dan tetep gokil sampai sekarang. Bapak jaga image ya? Gak apa-apa deh Pak kalau Bapak jaga image. Serius dan disiplin saat bertugas itu memang diperlukan kok Pak!

12. Sehat


Pak, maaf, ini buat adek-adek Bapak yang tinggi dan gagah itu lho Pak. Sama buat para polwan cantik itu Pak. Duh, seger-seger. Apa rahasia mereka biar seger gitu sih Pak? Temen saya nanya lho Pak, beneran. Dan mereka bakal gembira ria kalau dikasih tau. Maklum Pak, banyak yang gagal diet.

13. Cantik!


Uhuk! Maaf Pak, yang ini bukan buat Bapak sih sebenarnya. Tapi teman saya ngotot stereotipe ini dimasukkan. Soalnya dia suka banget lihat polwan-polwan berseragam yang cantik dan hobi wara-wiri di berita. Ini nih Pak, yang sering memberi angin segar buat masyarakat. Para polisi wanita yang berseragam itu menurut kami bisa membuat figur polisi jadi lebih dekat dengan masyarakat. Bener nggak sih Pak?

*Tapi kok cuma Polwan cantik sih Pak? Polisi gantengnya kapan?*

Saya rasa curahan hati ini cukup sampai di sini ya Pak. Semoga Bapak tidak marah. Apapun stereotipe yang melekat terhadap Bapak dan teman-teman Bapak, kami percaya semuanya masih dalam proses untuk menjadi lebih baik. Kehadiran Bapak dan teman-teman dibutuhkan di negeri ini. Apalagi saat banyak banget tindak kriminal terjadi seperti saat ini. Sungguh Pak, kami butuh Bapak.

Meski ada banyak stereotipe yang kami tulis, kami ingat kok Pak kalau tidak semua polisi seperti itu. Namun jika ada, para pembaca tentu membenci oknumnya. Para pembaca sebisa mungkin akan berusaha tidak membenci kesatuannya. Sebab kami juga tau, oknum-oknum inilah saja yang layak dibenci karena telah membuat nama institusi kepolisian rusak.

Merekalah yang membentuk stereotipe bagi keseluruhan lembaga kepolisian, dan kami sedih dengan stereotipe ini. Semoga ya, Pak, kepolisian Indonesia bisa menjadi makin baik dari hari ke hari. *Amin*

Benteng Vredeburg, Saksi Biksu Penjajahan Belanda

Berjumpa lagi dengan saya yang gak bakal bosan menuliskan tempat- tempat wisata di kota Yogyakarta tercinta ini, hehehe.  Setelah postingan pertama saya berjudul "Titik 0 Km JOGJA, Tempat Nongkrong Yang Ngangenin", pada kesempatan kali ini saya akan mengulas tempat wisata yang tidak jauh dari lokasi titik 0 km Jogja, yaitu Benteng Vrederburg. Saya sendiri sudah pernah masuk ke tempat wisata tersebut sebanyak 3 kali, yang pertama waktu saya kelas 6 SD (wkwkwk study tour SD saya ke Jogja), terus pada saat pelaksanaan FKY (Festival Kebudayaan Yogyakarta), dan terakhir saya kesana sebenarnya cuma numpang parkir dihalaman depan Benteng Vrederburg (wkwkwk, yang ini seharusnya gak masuk hitungan ya? heheh).

Titik 0 Km JOGJA, Tempat Nongkrong Yang Ngangenin

Beh, ini postingan pertama ane gan sist, juga buat para pengunjung bapak- bapak, ibu- ibu, om -om, tante, adik kakak, simbah eyang, dst  dah pokoknya, hehe. Jangan lupa untuk berlangganan blog sederhana ini yap, biar terus dapat referensi tempat wisata di seputaran jogja maupun sekitarnya. :)

Di postingan pertama ini ane mau kenalin tempat wisata di jogja yang bakalan ngangenin jika anda sekalian pernah kesana, namanya titik 0 km jogja. Nih tempat memang lebih cocok buat tongkrong saat pagi, siang, sore maupun malam hari. Di sini kalian bakalan disuguhin pemandangan dan suasana yang luar biasa top dech. Tapi ane rekomendasikan kalau kalian mau ke sini buat sekedar hang out atau tongkrongan lebih baik dateng pas malem saja, selain karena akan ramai dengan para muda- mudi mas dan mbak yang buat sekedar kencan , tongkrong maupun anak- anak komunitas seperti komunitas skateboard, sepeda fixie, sepeda ontel, komunitas fotografi dan masih banyak lagi.